In

Seratus Delapan Puluh Derajat

Siapa dikau gadis pribumi
buat hausku bertambah
tutup sepi, kau pembatas keran imaji
tau kau kapan masuk dan keluar labuh hati
kuambil simpulan sendiri..

lama ku tunggu momentum pun jatuh
terlalu aku ekspektasi berlalu
gugup depanmu tak kuperlihatkan
hanya antusias akhirnya bertemu

suka tatapmu
tutur kata lucu
gelak tawa spontanmu
candu..

tatap aku lagi
mencoba telepati
jangan berpaling, aku anti
beriku sebentar nikmatmu itu
untukku sendiri

sampai di penghujung janji
sebelum dentingan berkumandang
kucoba menahan, kau iyakan
tutup pelan, senyummu tersaji

mengerti aku pertama kalinya
menahan kenikmatan,
harapanku teriak berbeda
dan pertama kalinya
nikmat bercinta lewat mata,
telinga, semua indera.

Yogyakarta 10/04/2009

Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar