In

Kumpulan Puisi

Egoku kembali
tak biasanya begini
offside kata komentator bola
sekedar tanda atau hanya ekspresi

Gembiraku setiap hari
tanpa spasi bersambung seperti simpul di tali
Sedihku tak hanya hari ini sudah beberapa hari
kadang datang begitu saja namun tangis ditantang
senyum yang tak bisa tidak terus kuberi
Marahku kosong melompong
aku hanya marah minim pelampiasan minim alasan
terbatas, tak terbiasa karna bukan aku sebenarnya

Kayu api tak bisa dibakar
kayu api di tantang dingin lembab lapuk
kayu api tak lagi kering kala panas berganti mendung

kiasan ego yang berlebihan
terhalang sudut pandang
kesepian saat tempat mengadu
tiba tiba hilang.

Menunggu Juni.               Yogyakarta 02:20/15.04.17

Angin kau lawan
penyakit badan
dimalam gelap kedinginan
menyiksa diri, sendirian.

Yang lain tidur
diam, sesekali menggaruk
dan memeluk keheningan
lelap dibuai alam bawah sadar.

Apa kau tak iri nokturnal
yang lain hidup normal
mereka yang pasrah pada kebiasaan
sedangkan kau melawan
Menyedihkan.

pathetic.                                        Yogyakarta, 03:49/23.03.17

Ajari aku
Pelihara aku
Budayakan aku
Wahai alam semesta

Gali gali dan gali
Fikiranku agar selangkah lebih hidup
Agar bisa menjaga esensimu
Management berkehidupan
Memproteksi keseimbangan
Mencari jati diriku yang katanya
Ada tuhan

Aku tak berharap seperti lainnya
Berharap jalan lurus agar merdeka
Yang terselimutkan pedoman agama
Mencurangi jati diri dan bangga

Ketika segala sesuatunya kuanggap nyata
Bukan ilusi yang larut karna harta benda
Jiwa raga nafsu dan belitan akar berfikirku
Akan ku abdikan untuk sempurnakan
Identitasku personaku segalanya
Untuk bertahan melawan kelirunya dunia.


Mencari AKU.                                       Yogyakarta 11.01.17

Bentuk dirimu
Kembangkan fikiran
Relakan inginmu
Penuhi kebutuhmu

Jangan mudah dipola
Junjung toleransi
Selalu positif
Tebarlah benih kebaikan
Minimalisir keburukan

Jadilah manusia
Sebenar benarnya manusia
Bersosialisasilah bermanfaatlah
Sirami bunga nasionalisme dihatimu
Rawat lalu tanam lagi lain hati,
Agar menjadi taman kecil
Untuk istana kita
Istanamu, istana kita semua
Di masa depan.

Nasihat untuk diriku.                  Yogyakarta 09.01.17

Bulan selalu indah, matahari juga
Walau sinar mereka berbeda
Hangat ketika fajar
Dan dingin selimuti malam

Berat untukku keluar dambaku
Namun lebih berat sungguh berdiam diri larut akanmu

Aku suka malam, Merasa lebih hidup
Kuandaikan abstrak yang terlalu indah
Untuk kuungkapkan

Tapi fajar juga indah cintaku
Namun wajahmu hanya imajinasi
Saat kuekspresikan diriku saat itu

Aku mau lebih dari itu
Menjadi sebenar benarnya manusia
Bersamamu, mencari hakikat segala sesuatu Nya
Usaha kita sejajar dengan doa

Sampai kita hilang dijajah usia
Kembali tiada dari tiada.

Saksi rasa                                        Yogyakarta  04.01.17

Niatku bersandiwara
Gundah hatiku dijawab bencana
Aku benci dirimu sesaat sayangku
Kuberharap dapat menghinamu
Walau berat melawan diriku

Aku ingin dirimu manjaku
Ingin kuhempas masalahku di pundakmu
Ceritakan kisah kelam
Percikan memori suram
Dan serpihan cacian malam
Disela Bisikan cinta dipelukanmu
Kita menjamah malam bersama seperti dulu
Mencuri moment disela gerimis waktu itu
Aku rindu

Sesalku
Hari demi hari seakan memberi virus
Aku bagai binatang yang tak kau urus
Haus akan belai lembut jemarimu
Kabar layaknya fajar yang kutunggu
Aku benci dirimu, sungguh

Dimensi yang lain menasehati
Mengajakku berunding sayangku
Mengacak, mengobrak, mencaci perasaan
Tapi aku tak melawan, aku heran
Sekejap hilang, beharap mata dapat terpejam
Namun tenggelam dalam aku punya keegoisan.

Kisah pembuai malam.                Yoguakarta 22.22.16

Keabstraksi-an berlebihan ini mengganggu
Penuh ke-sesatan seperti yang orang lain katakan
Terus-menerus berdesakan binasakan fikiran
Berlipat-lipat ganda hal yang coba ku redam

Mungkin karena kerentan-an membara di diri
Dari pikir-an, cara ber-fikir, dan memikirkan-nya
Mem-bolak balik, menusuk-nusuk kegelisahan
Lenyapkan hal-hal normal yang selalu melintas
Menahan arus seperti biasa yang tanpa batas

Seperti ku ingin
Melawan hal-hal yang tak pernah ingin ku-berantas.

Kau bimbang kawan, kata temanku
Mengapa bisa?
Tanya hatimu, katanya

Saat kau jalan menyusuri likunya wanita
Saat itu juga kau lupa hal nyata
Kau kesampingkan fakta
Otakmu berhenti bekerja

Aku yakin dia berbeda, sanggahku
Keyakinanmu beri dasar temanku, sambutnya

Dia membuatmu gila beberapa jam saja
Dengan Semua yang kau suka darinya
Yang kau kagumi hatinya
Itu rahasia mereka kawan
Menjebak akal sehatmu awalnya
Yang kau beri alasan cinta

Tidak! Dia berbeda titik.
Lalu sekarang dimana dirimu sahabatku?

Kau seperti juara sejati bila didekatnya
Kini kulihat dirimu tak memegang piala
Kau bisa angkuh menganggap dirimu juara
Namun simbol itu ada padanya

Sekarang bagaimana? Lirihku
Kau masih berani bertanya?
Haha tinggalkan saja kawan, lupakan. Candanya

Lalu lihat akibatnya
Akankah kau melihat dirimu sekarang ada padanya
Atau kau akan melihat dia seperti udara
Menghirupmu dalam dan menghela semaunya.

Itu tolak ukur cinta
Kami yang sehat mengetahuinya
Susun kembali akal sehatmu
Saat kau tau bagaimana bengisnya mereka
Memperlakukan rasa yang kau puja.

Jawab sahabatku.                              Yogyakarta 27.11.16

Aku ingat bunga itu
Keindahan itu tertahan
Dimana hal yang kau ingin
Tak seindah dulu

Bukan keadaan memaksa
Bukan waktu menentukan
Juga air yang menghidupkan
Hanya momennya tersisa

Bunga perlahan semu
Di jajah udara
Dimakan waktu

Mungkin terselip esensi rindu
Bagaimana hal yang dulu
Tak lagi berlaku

Bunga merindu.                       Yogyakarta 20.11.16

Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar